Berita Novi Amalia Melebihkan Fakta

Novi Amalia adalah salah satu korban media yang terlalu berlebihan memberitakan kecelakaan yang di alaminya. Kecelakaan itu sendiri bukan kecelakaan yang parah. Akibat kecelakaan itu, 5 warga dan 2 polisi ia seruduk dengan mobil. Tidak ada korban jiwa, korban hanya mengalami luka-luka.

Kecelakaan ini menjadi fenomenal karena novi adalah model majalah dewasa. Naas, ketika kecelakaan, Novi di dalam pengaruh minuman keras hanya mengenakan pakaian dan celana dalam. Inilah yang menjadikan kecelakaan Novi heboh di berbagai berita. Beberapa media menyebut Novi dengan sebutan yang vulgar. Seolah Novi adalah pemeran adegan porno yang sedang mengemudi. Seperti kita ketahui, ia sedang Mabuk! Artinya tidak dalam kondisi sadar saat keluar dengan pakaian dalam.

***

Novi memang melakukan pelanggaran. Namun sadarkah? jika media kita juga telah melakukan pelanggaran yang fatal?. Pelanggaran itu adalah memberitakan berita secara berlebihan. Paling tidak terlihat dari frekuensi tayangan yang secara bombardir. Seolah kecelakaan yang dialami novi adalah kecelakaan maut yang memakan banyak korban jiwa seperti yang di alami oleh Apriyani di Tugu – tani silam.

Penyebutan Novi di media online pun terkesan menciptakan imej Novi sebagai tokoh ‘porno’ yang sedang naik daun. Tidak sedikit, judul dan isi berita online terkesan mendiskritkan Novi. Sebagai contoh, mengutip judul berita www.tribunnews.com pada tanggal 15 Oktober 2012 : “Novi Sopir Bugil Akan berikan Keterangan Sore Ini”; Juga Situs berita www.sindonews.com tanggal 17 oktober 2012 : “Novie si ‘Sopir Maut’Minta maaf”. Contoh di atas cukup membuktikan media melebih-lebihkan fakta dalam menulis judul berita. Dengan menyebut sebagai Sopir Bugil, judul berita TribunNews (online) telah keluar dari fakta yang sesungguhnya : Novi tidak bugil, ia masih mengenakan pakaian (dalam). Sesuai dengan Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) Kata ‘Bugil’ bermakna telanjang atau tidak berpakaian sedikitpun.

Julukan ‘Si Sopir Maut’ di berikan kepada Novi juga tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. kecelakaan yang di alami Novi, tidak memakan korban jiwa, korban hanya mengalami luka-luka. Kata ‘Maut’ dalam judul berita SindoNews seharusnya di gunakan jika terjadi kecelakaan yang memakan korban jiwa.

artikel ini saya ambil dari http://media.kompasiana.com/new-media/2012/10/19/berita-novi-amalia-melebihkan-fakta/496967/ 

opini saya tentang kabar ini yaitu beritanya terlalu berlebihan

Dilema Penegakan Hukum di Indonesia

 

Oleh: Mujahid A.Latief 

DALAM sebuah panel diskusi bertajuk “Peluang Peradilan satu Atap dalam Membangun Profesioanlisme dan Integritas Hakim”, Satjipto Rahardjo mengatakan perlu adanya rekonseptualisasi makna hukum – apa yang kita maknai hukum (what mean by law). Satjipto Rahardjo menilai dominasi pemahaman hukum yang terjadi saat ini cenderung legalistik – positifistik. Satjipto berkeyakinan bahwa hukum itu not only stated in the book tetapi juga hukum yang hidup di masyarakat (living law).

Reformasi yang telah berlangsung sejak tahun 1998 harus diakui telah melahirkan sejumlah perubahan instrumental, meski diakui juga bahwa perubahan tersebut masih banyak kelemahannya. Banyaknya kelemahan tersebut karena reformasi tidak punya paradigma dan visi yang jelas alias hanya tambal sulam, contohnya reformasi peradilan yang terwadahi dalam empat paket undang-undang yang berkaitan dengan peradilan hanya lebih banyak memfokuskan pada peradilan satu atap (Beny K. Harman).

Gambaran yang disampaikan oleh Beny K.Harman dan Satjipto tersebut bisa menjadi gambaran bagi kita semua dalam melihat wajah reformasi hukum Indonesia. Benar bahwa saat ini telah banyak aturan hukum yang mendorong kearah reformasi sebagaimana tuntutan masyarakat. Benar bahwa sudah banyak lembaga yang memiliki peran untuk memperbaiki sistem peradilan kita, sebut saja misalnya lahirnya KPK, Komisi Yudisial, Komisi Kejaksaan, Komisi Kepolisian, dan Timtastipikor.

Ekspektasi masyarakat terhadap lahirnya berbagai peraturan perundang-undangan baru dan lembaga baru tersebut sangat tinggi. Tetapi ekspektasi masyarakat seringkali tidak sejalan dengan realitas yang ada. Kita sering mendengar banyak tersangka koruptor tetapi akhirnya masyarakat juga kurang puas dengan putusan akhirnya. Mengapa sering terjadi hakim membebaskan terdakwa atau setidak-tidaknya hukumannya sangat ringan. Apakah sedemikian tajam perbedaan pemahaman fakta hukum di persidangan antara hakim dan Jaksa. Argumentasi hukum apa yang mereka pergunakan, adakah paradigma legalistik-posifistik semata yang dipergunakan ataukah ada unsur lain yang ikut mempengaruhi – adalah deretan pertanyaan publik yang belum ada akhirnya.

Lembaga peradilan sebagai institusi yang memiliki kekuasaan yang besar dalam menentukan arah penegakan hukum berada dalam posisi yang sentral dan selalu menjadi pusat perhatian masyarakat. Sayangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga peradilan belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Bagaimana seharusnya agenda reformasi hukum khususnya pemberantasan korupsi dilakukan?

Seorang tokoh reformis China yang hidup sekitar abad 11 mengemukakan, ada dua unsur yang selalu muncul dalam pembicaraan masalah korupsi yaitu hukum yang lemah dan manusia yang tidak benar. Tidak mungkin menciptakan aparat yang bersih hanya semata-mata mendasarkan rule of law sebagai kekuatan pengontrol (social control). Ia berkesimpulan dalam memberantas korupsi dibutuhkan penguasa yang punya moral tinggi dan hukum yang rasional serta efisien (Mujahid:2000)

Dalam sejarahnya “upaya” pemberantasan korupsi sudah berlangsung sejak tahun 1958, yakni dengan lahirnya berbagai institusi dan peraturan perundang-undangan yang ditujukan untuk memberantas korupsi, akan tetapi korupsi di Indonesia selalu saja menempati urutan yang tinggi .

Seiring dengan tuntutan reformasi yang tuntutan paling penting adalah reformasi dibidang hukum, yang bermuara pada tuntutan agar pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme yang sudah mewabah di Indonesia dapat dilakukan. Puncak dari tuntutan tersebut melahirkan instrumen hukum dalam rangka memberantas korupsi yang terlihat pada Tap MPR No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Tap MPR tersebut telah dijabarkan dalam peraturan perundang-undangan yang ada dibawahnya dan terakhir adalah lahirnya UU No.30/2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan berbagai instrumen hukum lain yang diarahkan untuk penegakan hukum.

Harus diakui kenyataannya sampai saat ini berbagai instrumen hukum yang ada belum menunjukkan hasil yang maksimal dalam pemberantasan korupsi. Korupsi tidak hanya merugikan keuangan Negara semata, akan tetapi telah melanggar hak asasi manusia dalam bidang sosial dan ekonomi. Kejahatan korupsi yang dikategorikan sebagai suatu kejahatan yang luar biasa (Extra Ordinary Crime) – penanganannya harus dilakukan dengan cara yang luar biasa dalam bingkai due process of law, tidak dilakukan dengan cara konvensional.

Pemberantasan korupsi tidak cukup dengan hanya mendasarkan instrumen hukum yang ada, akan tetapi harus didukung oleh kemauan politik yang kuat dari semua cabang kekuasaan Negara (eksekeutif, legislatife dan yudikatif). Tidak dapat dipungkiri korupsi terjadi berkaitan erat dengan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) oleh kekuatan politik seperti ungkapan Lord Acton power tend to corrupt and absolutely power tends to corrupt absolutely.

Dengan adanya intstrumen hukum yang sudah memadai saat ini, mestinya pemberantasaan KKN relatif lebih mudah. Hanya saja penyelesaiannya sangat tergantung pada political will. Pemberantasan korupsi hanya akan tercapai manakala kekuasaan politik dan penegak hukum dipegang oleh orang yang punya integritas dan keberanian. Berbagai kasus yang melibatkan pejabat publik yang tidak jelas ujungnya tidak saja melecehkan hukum akan tetapi menghina rasa keadilan masyarakat. Karena itu setiap aparat penegak hukum harus memiliki komitmen yang sama untuk memberantas korupsi, meminjam intilah Satjipto ketika seorang aparat penegak hukum menangani kasus korupsi dia tidak boleh datang dengan netral tetapi harus datang predesposisi tertentu dengan semangat untuk memberantas korupsi. Dengan demikian penegakan hukum akan menyentuh kepastian dan keadilan bagi masyarakat. ***

Sumber

Tugas Artikel tentang Sosial

Assalamualaikum wr.wb
saya Wibi Zulfatria dari kelas 1ka10 Sistem Informasi Gunadarma.

Jejaring sosial adalah dampak positif dari modernisasi yang bisa dimanfaatkan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Jejaring sosial itu sendiri adalah suatu hubungan yang dibentuk didalam jaringan internet, yang dijalin dengan relasi spesifik seperti perteman.

Jejaring sosial membuat hubungan sosial sebagai ikatan hubungan mulai dari pertemanan,kekeluargaan, hingga ke berbagai negara.
Faktanya jejaring sosial berperan penting dalam kehidupan. karena didalamnya kita bisa menemukan berbagai macam berita, ilmu pengetahuan, hingga jual-beli pun ada.

Opini:
menurut saya jejaring sosial itu bermanfaat bagi kehidupan manusia, karena jejaring sosial membantu mempermudah kehidupan manusia.

Posted from WordPress for Android